Friday, December 14, 2012

Lilin Yapentra

lilin yapentra adalah sebuah program yang di gagas seorang ibu "istri pendeta Silalahi" seorang pendet GKPI simpang limun. ibu nyonya silalahi boru pardede ini merasa empati mendengar kesulitan yang sedang dialammi Yapentra dalam finansial menyusul setiap tahun anggaran dari sponsor Jerman yang setiap tahun di kurangi sebesar %10. sehingga ibu silalahi boru pardede memperoleh ide yang diberi nama Lilin Yapentra. Lilin yapentra adalah jalan bagi setiap orang yang ingin ambil bagian dalam mengurangi kegelapan yang dialami yapentra. sebuah lilin dihargai sebesar rp10000. barang siapa ingin membantu yapentra tidak mesti datang langsung keyapentra atau mesti memiliki jumlah sumbangan yang wah. yang penting niatnya. bila anda merasa terketuk hatinya bisa bergabung dengan Lilin Yapentra. caranya transpersaja sesuai kerelaan. ke rekening Lilin Yapentra dan setiap tanggal 11 aakn mendepat laporan kiriman anda. untuk lebih jelas boleh dihubungi hp 081264343329 atau yapentra 0617940467 atau email: tyapentra@yahoo.com

mary christmas

saya mengucapkan selamatmenyambut hari natal 25 desember bagi semua teman-teman yang senantiasa merayakan hari natal. semoga natal kali ini memberi energi baru bagi kita . jadikanlah momentum natal ini sebagai kesempatan merenungkan kembali betapa kita berharga di hadapan Tuhan kita yesus. amin

Wednesday, November 21, 2012

apa sih aturan itu

sering kali kita menempatkan diri kita dibawah ikatn aturan. kita hidup dengan kaku, terjerat dan seperti robot yang dikenndalikan mesin. menurut saya aturan itu adalah acuan dasar yang membuatkita nyaman dan tenang dalam beraktifitas. tempatkan saja aturan sebagai standar yang menuntun kita menentukan prilaku, jangan kaku, jangn takut dan jangan ragu untuk memberikan kreatifitas sebagai bukti kita adalah mahluk yang berakal.

sahabat disabilitas yang lain

Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Published on Monday, 08 October 2012 13:01 | Written by Hilma Awalina | Print Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Perjuangan Ibunda Tunanetra Tak Menghalangi Sukses Sang Ibu All Pages Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani dan menyandang tunanetra sejak usia 5 tahun. Ia berhasil menembus segala keterbatasan hingga meraih gelar doktor. Didi Tarsidi bukan hanya sosok disabilitas tunanetra yang berhasil dalam pendidikan dan kehidupan pribadi.  Ia juga sosok yang mampu berbuat banyak untuk kemajuan dunia tunanetra Indonesia. Terbukti dia terpilih menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) selama dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014). Bagaimana Didi meniti jalan hidup dan menembus segala keterbatasan, hingga menjadi sosok tunanetra yang pantas dijadikan teladan? “Tunanetra itu karakteristik, bukan kekurangan,” ujarnya. Tanpa Penyesalan sosok17 2 Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani di Desa Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, 1 Juni 1951. Ia lahir dengan keadaan normal. Layaknya kehidupan petani, ia dibesarkan dalam kondisi sederhana namun penuh sukacita. Segalanya dijalani terasa mudah hingga ia menginjak 5 tahun. Saat itu, sejenis penyakit infeksi menyerang mata dan membuat Didi kehilangan penglihatan. Ujian hidup yang berat untuk anak seusianya. Kasih sayang kedua orang tua dan keempat saudaranya membuat membuat Didi tetap semangat menjalani hidup, meskipun keadaannya tak lagi seperti dulu. Dalam kehidupan di keluarga, Didi diajarkan untuk tetap bersikap optimistis. Ia mendapat perlakuan dan perhatian yang sama dari orang tuanya. Didi tidak pernah merasa dibedakan dari kakak atau adiknya. “Kalaupun ada perlakuan yang beda, karena perbedaan itu berarti bagi saya,” ujarnya. Didi sangat bersyukur kepada Tuhan karena dilahirkan dari orang tua yang sangat baik. “Orang tua saya tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka mampu menerima segala yang diberikan Tuhan dan menganggapnya sebagai karunia sehingga tidak satu pun penyesalan dalam hati mereka,” katanya. Salah satu bukti kelebihan orang tua Didi adalah memikirkan pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhan khusus. Pada saat usia 9 tahun Didi dikirim belajar ke SLB/A Wiyata Guna, sekolah khusus bagi anak tunanetra di Bandung. Menempuh pendidikan di sekolah khusus bersejarah ini menguatkan Didi tumbuh menjadi kuat dan selalu bersemangat. Didi tumbuh menjadi sosok yang tegar. Baginya tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi, sehingga tidak ada alasan untuk mengeluh. Ketegaran Didi begitu kokoh, meskipun cobaan kembali datang. Saat ia duduk di bangku SMP, sang ayah tercinta menghadap Yang Mahakuasa. Perjuangan Ibunda Sang Ibu memperjuangkan Didi tetap bisa sekolah, meskipun menjadi orang tua tunggal bagi lima anaknya. Didi menamatkan SMP pada tahun 1969. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri 2 Bandung. Sebuah keistimewaan pada saat itu, karena Didi belajar bersama calon-calon guru yang awas atau non-tunanetra. Didi tak berhenti sampai di situ. Tamat dari SPG tahun 1973, Didi melanjutkan pendidikan di IKIP Bandung. Ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Didi berhasil meraih gelar sarjana muda pada tahun 1976 serta gelar sarjana pendidikan pada tahun 1979. Bersaing untuk Hidup sosok17 1 Bisa menempuh pendidikan di perguan tinggi negeri di tahun 1970-an, untuk seorang tunanetra, seperti Didi Tarsidi, tergolong istimewa. Namun Didi tidak sekadar bisa kuliah. Ia juga mendapat beasiswa. Ternyata beasiswa tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup lain. Karena itu Didi juga kemudian berusaha mencari uang sendiri dengan menjadi guru privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Profesi ini berawal dari pertemuan Didi dengan para volunteer dari Australia. Para relawan itu menjadi reader untuk membantu Didi dan teman yang lain dalam belajar. Saat itu para relawan tersebut sedang belajar bahasa Indonesia dari guru lain. Dari kegiatan dan interaksi tersebut, seorang relawan bernama Viona merasa penjelasan Didi lebih baik daripada penjelasan gurunya. Viona kemudian meminta Didi menjadi guru privat bahasa Indonesia baginya. Viona juga berusaha mempromosikan Didi kepada teman-temannya. Awalnya Didi juga mencoba mendatangi rumah warga negara asing di Bandung untuk menawarkan jasa. Tidak mudah, karena Didi juga harus bersaing dengan guru privat lain yang lebih berpengalaman. Awalnya banyak yang meragukan kemampuan Didi dan menolak. Namun, akhirnya Didi berhasil meyakinkan para calon muridnya. Bahkan salah satu muridnya tak ragu-ragu mempromosikan Didi melalui iklan di buletin asing What’s On. Nama Didi pun kian terkenal dari kalangan komunitas orang asing. Kini bukan Didi lagi yang menawarkan diri, tapi dialah yang diminta. Dari hasil menjadi guru privat Didi mendapat uang yang sangat membantu biaya hidup dan kuliahnya. Kegiatan Didi mengajar privat berkurang seiring aktivitasnya di berbagai organisasi dan dunia kerja yang sesungguhnya. Didi mengawali kerja yang sesungguhnya pada tahun 1979 sebagai penerjemah untuk Hellen Keller International, lembaga sosial internasional yang berpusat di di New York, Amerika Serikat. Bahkan kemudian Didi benar-benar berhenti mengajar karena sibuk bekerja. “Saya bekerja sebagai interpreter untuk Helen Keller International, yang saat itu menjalin kerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merintis pengembangan pendidikan terpadu bagi anak-anak tunanetra di Indonesia, yang kegiatan operasionalnya berpusat di Bandung,” jelas Didi. Tunanetra Tak Menghalangi Didi seorang yang gigih. Ia mengaku, meski tunanetra, dia tidak menghadapi banyak hambatan karena mau berupaya. “Saya punya kapasitas intelektual dan di situlah saya berusaha berkembang,” katanya. Hasil dari upaya itu, tahun 1979 Didi diangkat sebagai staf pengajar pada Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Bandung dan mulai mengajar pada tahun 1980. Tahun 1994, ketika SGPLB Bandung diintegrasikan ke dalam Jurusan Pendidikan Luar Biasa IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Didi diangkat sebagai dosen. Hingga saat ini Didi berstatus dosen Jurusan PLB dan menduduki jabatan Lektor Kepala. sosok17 3 Selain sebagai dosen, selama tahun 1999-2004, Didi juga terlibat dalam Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, yang mendapat bantuan dana dari pemerintah Norwegia dan bantuan teknis dari Universitas Oslo. Didi berperan sebagai konsultan sekaligus penerjemah pada proyek ini. Proyek ini memberikan kesempatan kepada Didi untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk mempromosikan pendidikan inklusif. Selain itu, tahun 2003, Didi termasuk dalam empat orang dosen yang dikirim UPI ke Norwegia untuk studi banding implementasi pendidikan inklusif di Norwegia dan pelaksanaan program master pendidikan kebutuhan khusus dengan orientasi pendidikan inklusif di Universitas Oslo. Studi banding ini kemudian bermuara pada pembukaan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di Pascasarjana UPI. Kesempatan-kesempatan itu membantu Didi mampu terus mengembangkan kemampuan intelektualnya. Didi menempuh pendidikan magister di Pascasarjana UPI pada tahun 2000-2002 dan meraih magister pendidikan dalam bidang studi Bimbingan dan Konseling pada tahun 2002. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan doktoral di perguruan yang sama. Ia memulai pendidikan tahun 2005 dan meraih gelar doktor pada tahun 2008. Selain di dunia pendidikan, Didi juga aktif dalam kegiatan organisasi penyandang disabilitas, khusunya tunanetra. Selain menjabat Ketua Umum DPP Pertuni dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014), Didi juga menjabat Vice President World Blind Union Asia-Pacific tahun 2004 - 2008. Didi juga menjadi koordinator pelayanan Mitra Netra Bandung. Sukses Sang Ibu Kini Didi hidup bahagia bersama keluarganya. Didi menikah dengan Wacih Kurnaesih, tunanetra yang saat ini menjadi guru SLB/A Negeri Bandung. Mereka bertemu saat sama-sama tinggal dan belajar di Wiyata Guna. Keduanya menikah tahun 1980. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak, Tommi Rinaldi (kelahiran 1981) dan Sendy Nugraha (1983). Kedua putra ini sudah menikah dan memberikan cucu. Didi bersyukur bisa memperlihatkan keberhasilan dalam berkarier dan berkeluarga sebelum sang ibu tercinta wafat belum lama ini. “Alhamdulillah, anak-anak tidak bernasib seperti saya. Mereka tumbuh normal dan sekarang berhasil dalam pekerjaannya,” tuturnya. Ia menganggap keberhasilan yang diraihnya adalah keberhasilan dari usaha yang dilakukan sang ibunya dalam menghidupi keluarga seorang diri. Dalam kesehariannya, di luar kegiatan formal, Didi menghabiskan waktu luang di depan komputer untuk membaca, mencari segala informasi. Didi aktif menulis di blog pribadinya “Counseling and Blindness”. Blog ini dibuat untuk mengubah persepsi negatif masyarakat tentang tunanetra. Didi Tarsidi memang telaten dan tekun. Dalam diskusi mengenai peran pers dalam pemberdayaan disabilitas yang diselenggarakan majalah diffa bersama Jurusan PLB Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung, pertengahan Maret 2012, Didi duduk di kursi barisan depan. Ia mengikuti diskusi dengan serius dan sesekali menulis di netbook-nya. “Ini penting. Ini harus dicatat,” gumamnya beberapa kali. Itulah sosok Doktor Didi Tarsidi. Dalam perjalanan hidupnya, ia selalu berusaha menerima diri apa adanya, sesuai dengan yang diberikan Tuhan. “Tapi tidak sekadar menerima. Jika hanya menerima, bukanlah suatu hal yang dapat dikatakan berhasil. Kita harus bertekad mengembangkan apa yang dimiliki agar dapat optimal sehingga bermanfaat,” ujarnya. Itulah prinsip dalam hidup Didi Tarsidi. Ia tidak pernah menganggap ketunanetraan sebagai kekurangan, melainkan sebagai karakteristik pribadi. “Sama dengan karakteristik pada orang lain, seperti jelek, cantik, gemuk, dan kurus,” katanya. Satu cita-cita Didi Tarsidi yang belum tercapai adalah meraih gelar profesor. Namun, semangat Didi tak pernah pupus. * Foto: Sigit D Pratama (rubrik sosok diffa edisi 17, 2012)

sosok tunanetra sukses

Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Published on Monday, 08 October 2012 13:01 | Written by Hilma Awalina | Print Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Perjuangan Ibunda Tunanetra Tak Menghalangi Sukses Sang Ibu All Pages Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani dan menyandang tunanetra sejak usia 5 tahun. Ia berhasil menembus segala keterbatasan hingga meraih gelar doktor. Didi Tarsidi bukan hanya sosok disabilitas tunanetra yang berhasil dalam pendidikan dan kehidupan pribadi.  Ia juga sosok yang mampu berbuat banyak untuk kemajuan dunia tunanetra Indonesia. Terbukti dia terpilih menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) selama dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014). Bagaimana Didi meniti jalan hidup dan menembus segala keterbatasan, hingga menjadi sosok tunanetra yang pantas dijadikan teladan? “Tunanetra itu karakteristik, bukan kekurangan,” ujarnya. Tanpa Penyesalan sosok17 2 Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani di Desa Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, 1 Juni 1951. Ia lahir dengan keadaan normal. Layaknya kehidupan petani, ia dibesarkan dalam kondisi sederhana namun penuh sukacita. Segalanya dijalani terasa mudah hingga ia menginjak 5 tahun. Saat itu, sejenis penyakit infeksi menyerang mata dan membuat Didi kehilangan penglihatan. Ujian hidup yang berat untuk anak seusianya. Kasih sayang kedua orang tua dan keempat saudaranya membuat membuat Didi tetap semangat menjalani hidup, meskipun keadaannya tak lagi seperti dulu. Dalam kehidupan di keluarga, Didi diajarkan untuk tetap bersikap optimistis. Ia mendapat perlakuan dan perhatian yang sama dari orang tuanya. Didi tidak pernah merasa dibedakan dari kakak atau adiknya. “Kalaupun ada perlakuan yang beda, karena perbedaan itu berarti bagi saya,” ujarnya. Didi sangat bersyukur kepada Tuhan karena dilahirkan dari orang tua yang sangat baik. “Orang tua saya tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka mampu menerima segala yang diberikan Tuhan dan menganggapnya sebagai karunia sehingga tidak satu pun penyesalan dalam hati mereka,” katanya. Salah satu bukti kelebihan orang tua Didi adalah memikirkan pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhan khusus. Pada saat usia 9 tahun Didi dikirim belajar ke SLB/A Wiyata Guna, sekolah khusus bagi anak tunanetra di Bandung. Menempuh pendidikan di sekolah khusus bersejarah ini menguatkan Didi tumbuh menjadi kuat dan selalu bersemangat. Didi tumbuh menjadi sosok yang tegar. Baginya tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi, sehingga tidak ada alasan untuk mengeluh. Ketegaran Didi begitu kokoh, meskipun cobaan kembali datang. Saat ia duduk di bangku SMP, sang ayah tercinta menghadap Yang Mahakuasa. Perjuangan Ibunda Sang Ibu memperjuangkan Didi tetap bisa sekolah, meskipun menjadi orang tua tunggal bagi lima anaknya. Didi menamatkan SMP pada tahun 1969. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri 2 Bandung. Sebuah keistimewaan pada saat itu, karena Didi belajar bersama calon-calon guru yang awas atau non-tunanetra. Didi tak berhenti sampai di situ. Tamat dari SPG tahun 1973, Didi melanjutkan pendidikan di IKIP Bandung. Ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Didi berhasil meraih gelar sarjana muda pada tahun 1976 serta gelar sarjana pendidikan pada tahun 1979. Bersaing untuk Hidup sosok17 1 Bisa menempuh pendidikan di perguan tinggi negeri di tahun 1970-an, untuk seorang tunanetra, seperti Didi Tarsidi, tergolong istimewa. Namun Didi tidak sekadar bisa kuliah. Ia juga mendapat beasiswa. Ternyata beasiswa tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup lain. Karena itu Didi juga kemudian berusaha mencari uang sendiri dengan menjadi guru privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Profesi ini berawal dari pertemuan Didi dengan para volunteer dari Australia. Para relawan itu menjadi reader untuk membantu Didi dan teman yang lain dalam belajar. Saat itu para relawan tersebut sedang belajar bahasa Indonesia dari guru lain. Dari kegiatan dan interaksi tersebut, seorang relawan bernama Viona merasa penjelasan Didi lebih baik daripada penjelasan gurunya. Viona kemudian meminta Didi menjadi guru privat bahasa Indonesia baginya. Viona juga berusaha mempromosikan Didi kepada teman-temannya. Awalnya Didi juga mencoba mendatangi rumah warga negara asing di Bandung untuk menawarkan jasa. Tidak mudah, karena Didi juga harus bersaing dengan guru privat lain yang lebih berpengalaman. Awalnya banyak yang meragukan kemampuan Didi dan menolak. Namun, akhirnya Didi berhasil meyakinkan para calon muridnya. Bahkan salah satu muridnya tak ragu-ragu mempromosikan Didi melalui iklan di buletin asing What’s On. Nama Didi pun kian terkenal dari kalangan komunitas orang asing. Kini bukan Didi lagi yang menawarkan diri, tapi dialah yang diminta. Dari hasil menjadi guru privat Didi mendapat uang yang sangat membantu biaya hidup dan kuliahnya. Kegiatan Didi mengajar privat berkurang seiring aktivitasnya di berbagai organisasi dan dunia kerja yang sesungguhnya. Didi mengawali kerja yang sesungguhnya pada tahun 1979 sebagai penerjemah untuk Hellen Keller International, lembaga sosial internasional yang berpusat di di New York, Amerika Serikat. Bahkan kemudian Didi benar-benar berhenti mengajar karena sibuk bekerja. “Saya bekerja sebagai interpreter untuk Helen Keller International, yang saat itu menjalin kerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merintis pengembangan pendidikan terpadu bagi anak-anak tunanetra di Indonesia, yang kegiatan operasionalnya berpusat di Bandung,” jelas Didi. Tunanetra Tak Menghalangi Didi seorang yang gigih. Ia mengaku, meski tunanetra, dia tidak menghadapi banyak hambatan karena mau berupaya. “Saya punya kapasitas intelektual dan di situlah saya berusaha berkembang,” katanya. Hasil dari upaya itu, tahun 1979 Didi diangkat sebagai staf pengajar pada Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Bandung dan mulai mengajar pada tahun 1980. Tahun 1994, ketika SGPLB Bandung diintegrasikan ke dalam Jurusan Pendidikan Luar Biasa IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Didi diangkat sebagai dosen. Hingga saat ini Didi berstatus dosen Jurusan PLB dan menduduki jabatan Lektor Kepala. sosok17 3 Selain sebagai dosen, selama tahun 1999-2004, Didi juga terlibat dalam Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, yang mendapat bantuan dana dari pemerintah Norwegia dan bantuan teknis dari Universitas Oslo. Didi berperan sebagai konsultan sekaligus penerjemah pada proyek ini. Proyek ini memberikan kesempatan kepada Didi untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk mempromosikan pendidikan inklusif. Selain itu, tahun 2003, Didi termasuk dalam empat orang dosen yang dikirim UPI ke Norwegia untuk studi banding implementasi pendidikan inklusif di Norwegia dan pelaksanaan program master pendidikan kebutuhan khusus dengan orientasi pendidikan inklusif di Universitas Oslo. Studi banding ini kemudian bermuara pada pembukaan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di Pascasarjana UPI. Kesempatan-kesempatan itu membantu Didi mampu terus mengembangkan kemampuan intelektualnya. Didi menempuh pendidikan magister di Pascasarjana UPI pada tahun 2000-2002 dan meraih magister pendidikan dalam bidang studi Bimbingan dan Konseling pada tahun 2002. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan doktoral di perguruan yang sama. Ia memulai pendidikan tahun 2005 dan meraih gelar doktor pada tahun 2008. Selain di dunia pendidikan, Didi juga aktif dalam kegiatan organisasi penyandang disabilitas, khusunya tunanetra. Selain menjabat Ketua Umum DPP Pertuni dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014), Didi juga menjabat Vice President World Blind Union Asia-Pacific tahun 2004 - 2008. Didi juga menjadi koordinator pelayanan Mitra Netra Bandung. Sukses Sang Ibu Kini Didi hidup bahagia bersama keluarganya. Didi menikah dengan Wacih Kurnaesih, tunanetra yang saat ini menjadi guru SLB/A Negeri Bandung. Mereka bertemu saat sama-sama tinggal dan belajar di Wiyata Guna. Keduanya menikah tahun 1980. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak, Tommi Rinaldi (kelahiran 1981) dan Sendy Nugraha (1983). Kedua putra ini sudah menikah dan memberikan cucu. Didi bersyukur bisa memperlihatkan keberhasilan dalam berkarier dan berkeluarga sebelum sang ibu tercinta wafat belum lama ini. “Alhamdulillah, anak-anak tidak bernasib seperti saya. Mereka tumbuh normal dan sekarang berhasil dalam pekerjaannya,” tuturnya. Ia menganggap keberhasilan yang diraihnya adalah keberhasilan dari usaha yang dilakukan sang ibunya dalam menghidupi keluarga seorang diri. Dalam kesehariannya, di luar kegiatan formal, Didi menghabiskan waktu luang di depan komputer untuk membaca, mencari segala informasi. Didi aktif menulis di blog pribadinya “Counseling and Blindness”. Blog ini dibuat untuk mengubah persepsi negatif masyarakat tentang tunanetra. Didi Tarsidi memang telaten dan tekun. Dalam diskusi mengenai peran pers dalam pemberdayaan disabilitas yang diselenggarakan majalah diffa bersama Jurusan PLB Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung, pertengahan Maret 2012, Didi duduk di kursi barisan depan. Ia mengikuti diskusi dengan serius dan sesekali menulis di netbook-nya. “Ini penting. Ini harus dicatat,” gumamnya beberapa kali. Itulah sosok Doktor Didi Tarsidi. Dalam perjalanan hidupnya, ia selalu berusaha menerima diri apa adanya, sesuai dengan yang diberikan Tuhan. “Tapi tidak sekadar menerima. Jika hanya menerima, bukanlah suatu hal yang dapat dikatakan berhasil. Kita harus bertekad mengembangkan apa yang dimiliki agar dapat optimal sehingga bermanfaat,” ujarnya. Itulah prinsip dalam hidup Didi Tarsidi. Ia tidak pernah menganggap ketunanetraan sebagai kekurangan, melainkan sebagai karakteristik pribadi. “Sama dengan karakteristik pada orang lain, seperti jelek, cantik, gemuk, dan kurus,” katanya. Satu cita-cita Didi Tarsidi yang belum tercapai adalah meraih gelar profesor. Namun, semangat Didi tak pernah pupus. * Foto: Sigit D Pratama (rubrik sosok diffa edisi 17, 2012)

kata mutiara Mario Teguh

mari kita simak langsung kata kata bijak mario teguh yang hanya ada di blog kata mutiara: Kata kata bijak Mario Teguh Yang kau sukai belum tentu baik bagimu. Jika untuk mendapatkan yang kau sukai, engkau sering gagal dan menua dalam kekecewaan, maka sebaiknya engkau belajar menyukai yang tak kau sukai. Lalu temukanlah kesukaan untuk menjadikan dirimu produktif, agar engkau menjadi pribadi dengan kedamaian dan kesejahteraan yang kau sukai. Sadarilah, Tuhan sering menggunakan yang tak kau sukai sebagai penuntun bagimu. Engkau yang sedang dibakar oleh kemarahan, ingatlah …Rasa marah adalah rahmat untuk mentenagai ketegasan mengubah keadaan menjadi lebih baik, bukan untuk menghinakan diri dan merusak hubungan baik dengan sesama. Engkau pribadi yang baik. Gunakanlah rasa marahmu untuk menghebatkan diri dan kehidupanmu. Sahabatku yang baik hatinya,Bukan keberuntungan yang menjadikanmu bijak, tapi kebijakanmulah yang menjadikanmu beruntung. Engkau harus menerima kemungkinan datangnya kekecewaan, tetapi engkau harus lebih meyakini kepastian pemenuhan harapanmu.Harapan adalah kekuatan yang meringankan bebanmu, yang melapangkan perjalananmu, dan yang membuka pandanganmu jauh ke masa depan. Harapan adalah jembatan yang menghubungkan antara satu doa dengan doa-doamu yang berikutnya.Bersabarlah dalam harapan baikmu. Karena, Harapan adalah tali kehidupan yang menghubungkanmu dengan Tuhan. Wahai Wanita, Lupakanlah mencari pria yang terbaik, tetapi fokuslah pada dirimu tuk menjadi wanita Terbaik..Hormatilah dirimu, jika engkau ingin mendapatkan cinta yang menghormatimu. Tidak perlu merasa takut kehilangan seseorang, karena masih ada banyak orang di sekililingmu yang takut kehilanganmu. Cinta akan terasa indah jika saling menyayangi, saling percaya, dan saling setia Pria sejati tidak akan selingkuh karena menghargai pasangannya- Cinta itu tidak selalu menuntut kesempurnaan. Cinta itu ketika kita dapat menutupi kekurangan seseorang dalam kebersamaan. Tuhan, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan & sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram Betapa pun sulitnya perjalananmu, selalu ingatlah Tuhan, agar keselamatanmu selalu terpelihara. Semua tak akan ada artinya jika hanya sebatas kata-kata belaka. Semua tak akan ada hasilnya jika hanya sebatas memendam rasa. Jangan hanya melihat Fisik karena cinta bukan sekedar memuji. "Engkau tahu itu cinta, jika ketidak-hadirannya menjadikanmu rindu dan melamun dalam keriuhan pesta". Kemenangan tidak bisa diraih tanpa pengorbanan dan kerja keras. Orang mungkin bisa menjelekkan pribadimu, tapi mereka tak mampu berbuat apapun terhadap sikapmu. Sikap, menunjukkan siapa dirimu. Satu-satunya orang yang bisa membuatmu sangat HAPPY, adalah orang yang sama yang bisa membuatmu sedih & LONELY. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau, tapi kamu harus tetap menjadi dirimu sendiri. Kamu tak bisa memberi yang tak kamu miliki. Jika kamu ingin mencintai orang lain, kamu harus terlebih dahulu mencintai diri sendiri. Kamu memang bisa mengabaikan dia yang pernah kamu cinta, tapi kamu tak pernah bisa mengubah kenangan yang telah dia bawa ke hidupmu. semoga bermanfaat kata kata bijak mario teguh

komedi

Naskah Drama Komedian adalah naskah berita tentang cerita lucu dan berisikan kata kata lucu pada naskah tersebut. kita tau komedian terkenal yaitu sule juga sebelum tampil di tv juga membaca naskah drama dulu agar pada tampil menampilkan performance yang bagus naskah drama ini di ambil dari berbagai sumber di internet. Sekarang nemang dalam suatu sekolah atau kuliah diwajibkan untuk membuat sebuah pementasan atau Pertunjukan sebagai tugas akhir atau UAS karena Drama sekarang sudah menjadi sebuah kurikulum di berbagai sekolah dan Naskah Drama ini tidak pula untuk kalangan Sekolah/Pelajar/SMA atau Remaja saja akan tetapi Mahasiswa pun membutuhkan untuk suatu tugaas akhir Mata Kuliah Tersebut, naskah drama Cinderella dan Putri Irakus Cinderella adalah seorang gadis yang cantik jelita. Namun, dia kehilangan orang yang sangat dicintainya yaitu ibunya. Ketika ayahnya menikah dan pergi meninggalkannya, hidupnya semakin menderita. Dia selalu diperlakukan seperti pembantu oleh ibu dan saudara tirinya. Pada saat itu, Sang Ratu mengadakan acara pesta dansa untuk mencari jodoh untuk Pangeran. Cinderella ingin sekali pergi ke pesta itu, namun ibu dan saudara tirinya tidak menijinkannya. Tapi dengan bantuan peri, Cinderella bisa pergi ke pesta itu dengan syarat kembali ke rumah sebelum jam 12 malam karena setelah jam 12 malam keajaiban itu akan hilang. Setelah jam 12 malam, Cinderella meninggalkan istana. Namun, tanpa sengaja, dia meninggalkan sepatu bot kesayangannya. Pangeran yang sudah jatuh hati padanya, mengadakan sayembara barang siapa yang ukuran kakinya pas dengan sepatu bot istimewa tersebut, akan menikah dengannya. Ketika Cinderella mencoba sepatu bot istimewa tersebut, ternyata cocok dan Cinderella juga mempunyai pasangan sepatu bot yang lain. Pangeran pun langsung melamar Cinderella. Setelah itu, Pangeran membawa Cinderella ke istana. Namun, cerita itu belum selesai. Ketika Sang Pangeran membawa Cinderella ke istana . . . . (Di arena sudah ada Ratu dan Putri Irakus yang sedang duduk di kursi. Cinderella dan Pangeran masuk ke arena) Ratu : (berdiri lalu menunjuk Cinderella) Siapa perempuan ini, Pangeran? Pangeran : Ini adalah wanita yang akan menjadi istriku. Ratu : Kau yakin memilih wanita seperti ini? Pangeran : Ya, kami sudah saling mencintai. (Cinderella dan Pangeran saling bertatap muka, berpegangan tangan, dan tersenyum.) Ratu : Apa? Kau pilih perempuan seperti ini yang tampang pembantu? Apa kata Bu Nia? Cinderella : Apa kata dunia, Ratu. Ratu : Ya. Itu maksudku. Pangeran : Walaupun penampilannya seperti pembantu, tapi hatinya seperti emas 24 karat. Ratu : Kau bilang hatinya seperti emas karatan? Tapi Pangeran. Bunda sudah menemukan pasangan yang cocok untukmu Pangeran. Dia adalah putri dari Kerajaan Jatuh Bangun. Pangeran : Tapi Bunda . . . . Ratu : Dia adalah wanita yang sangat cantik. Lagipula dia adalah wanita yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Apabila kerajaan kita bersatu dengan Kerajaan Jatuh Bangun, akan menjadi kerajaan yang sangat besaaar. Pangeran : Tapi aku sangat mencintainya, Bunda. Ratu : Tidak boleh! Pokoknya kau harus menikah dengan Putri Irakus. Pangeran : Hah? Irakus? Nama yang aneh. Tapi aku tetap tidak mau. Ratu : Harus mau! Pangeran : Tidak mau! Ratu : Pokoknya harus! Pangeran : Gak mau! Ratu : Harus! Pangeran : Mau. Eh tidak mau! Ratu : Dasar anak durhaka kau! Pangeran : Lho, kok jadi kaya Malin Kundang? Ratu : Kurang ajar kau! Sudah membantah perintah orang tua! (Ratu hampir menampar Pangeran) Pangeran : Marah….Merongos…..Pindah agama……..!!! Raja : (masuk ke arena) Stop..!! Ada apa ini? Siapa perempuan itu? (menunjuk Cinderella) Pangeran : Ini adalah calon istriku, Ayahanda. Raja : Oh, ini calon istrimu. Jadi perempuan ini yang memenangkan sayembara sepatu bot itu.(sambil melirik sepatu bot yang dipakai Cinderella) Pangeran : Iya, Ayahanda. Dia bahkan mempunyai pasangan sepatu bot yang lainnya. Ratu : Tapi aku sudah menemukan jodoh buat Pangeran! Dia adalah putri dari Kerajaan Jatuh Bangun. Raja : Ya sudah. Itu terserah Pangeran saja! Ratu : Tapi, Raja. Aku tidak setuju dengan keputusanmu. Masa Pangeran menikah sama pembantu seperti itu. Jangan gila donk! Raja : (berfikir sejenak) Ya. Sudah. Bagaimana kalau kita adakan suatu kompetisi? Putri Irakus : (berdiri) Kompetisi seperti apa, Yang Mulia? Raja : Kalau kau menang dalam kompetisi itu, kau yang akan menikahi Pangeran. Kalau perempuan itu yang menang, dia yang akan menikah dengan Pangeran. Ada yang tidak setuju dengan kuputusanku? Ratu : Lagi-lagi kau memberikan keputusan yang aneh! Setelah kau dan Pangeran mengadakan sayembara sepatu bot aneh itu! Putri Irakus : Baiklah kalau begitu, saya terima, Yang Mulia. Ratu : Apa? Kau terima tantangan aneh itu? (marah) Putri Irakus : Sudahlah Bibi. Saya bisa bersaing secara sportif. Ratu : Apa?? Kau panggil aku Bibi? Memangnya aku bibimu apa? (semakin marah) Putri Irakus : Oh! Maksudku Ibunda Ratu. Lagipula saya yakin saya bisa mengalahkan perempuan itu. Cinderella : (mengacungkan tangan) Raja : Ada apa, Nona? Kau tidak setuju dengan keputusanku? Cinderella : Saya setuju dengan keputusan Yang Mulia. Raja : Lalu, kenapa kau mengacungkan tangan? Cinderella : Sebenarnya, saya keberatan dipanggil dengan sebutan perempuan itu. Saya kan juga punya nama. Raja : Oh ya. Kau belum memperkenalkan diri. Siapa namamu? Cinderella : Namaku Cinderella. Ratu : Cinderella? Gadis cerobong asap. Nama yang paling aneh yang pernah kudengar. Lihat dirimu! Kau memang pantas mendapatkan nama itu! Cinderella : Sebenarnya itu cuma nama panggilanku saja. Nama itu diberikan oleh ibu dan saudara-saudara tiriku yang selalu jahat padaku. Ratu : Bisa kali gak curhat !! Raja : Kalau begitu, siapa nama aslimu? Cinderella : Siapa aja ,, boleeeeeeeeh Raja : Wa wa waduuhhhh , Cinderella : Iya iya. Nama asliku adalah Mocu Claudia Abraba Bella Sintia Cornelius Protectus Alfonso Equil Da Barbara Margaretha. Putri Irakus : Tapi, namaku juga tidak kalah panjangnya dengan Cinderella. Aku bisa menyebutkannya sekarang. Raja : Stop! Kenapa kita jadi mempeributkan nama? (semua terdiam sejenak) Raja : Bagaimana denganmu, Pangeran? Kau setuju? Pangeran : hmmhhh setuju gak ya?? Huahhaaa iya deh setuju aja. Ratu : Apa? Kau terima juga keputusan aneh itu? Sedangkan kau membantah perintahku? Raja : Okelah kalau begitu, kompetisi dimulai besok pagi pukul 9.00 sampai dengan selesai. Ratu : Tapi, kompetisi seperti apa baginda? Raja : Kompetisi yang akan digelar yaitu Kompetisi Menjahit Kalian siap? Cinderella & Putri Irakus : Siap, Yang Mulia. Raja : Ya sudah. Ku tunggu besok ya. Dah! (meninggalkan arena kemudian disusul dengan Cinderella dan Pangeran sambil bergandengan tangan) Ratu : Kita harus menyusun rencana supaya Cinderella kalah dalam kompetisi itu. Putri Irakus : Yess, I agree with you. Ratu : Sini, saya bisikin. Putri Irakus : Ih… Geli! Ratu : Mau gak? Putri Irakus : Iya, iya. Putri Irakus : Itu ide berlian! Ratu : Brilian. Putri Irakus : Ya. Itu maksudku. Ratu & Putri Irakus : Ha ha ha ha ha . . . . (Ratu dan Putri Irakus meninggalkan arena). Keesokan harinya . . . . (Semua masuk arena) Raja : Kalian sudah siap melaksanakan kompetisi? Cinderella & Putri Irakus : Ya iyalah . . . . Raja : Kompetisi ini yaitu kompetisi menjahit baju untuk Pangeran. Peraturannya sangat mudah. Kalian harus membuat sebuah baju untuk Pangeran dalam waktu satu malam. Baju yang kalian buat harus diserahkan besok pagi. Kalian mengerti dengan peraturannya? Cinderella & Putri Irakus : Mengerti, Yang Mulia. Raja : Sekarang, kalian bisa memulai pembuatan baju kalian. Cinderella : Baiklah Yang Mulia, kami berdua pamit sekarang. (Cinderella & Putri Irakus pergi meniggalkan arena disusul dengan Raja) Malamnya, Cinderella mulai menjahit. (Cinderella masuk membawa kain dan berpura-pura menjahit, kemudian pengawal masuk). Pengawal : Nona Cinderella. Anda dipanggil Cinderella : dipanggil siapa ..??! Pengawal : Yang Maha Kuasa, ya nggak lah. Dipanggil raja nohh…….. Cinderella : Oh, baiklah kalau begitu. (Cinderella dan Pengawal meninggalkan arena, kemudian datang Putri Irakus) Putri Irakus : (datang lalu merobek pakaian buatan Cinderella) Dengan begini. Kau pasti kalah, Cinderella. Ha ha ha ha! (meninggalkan arena, kemudian beberapa detik kemudian Cinderella datang). Cinderella : Tidak! Siapa yang berani melakukan ini? (mengambil kain yang telah dirobek) Aduh, pasti aku akan kalah dalam kompetisi kedua ini. Apa yang harus kulakukan? (menangis, kemudian keluar arena). Keesokan harinya . . . . (Raja, Pangeran, Ratu, & Pengawal masuk) Raja : Akhirnya tiba saatnya untuk penentuan pemenang dari kompetisi kedua ini. Kepada Putri Irakus, silahkan masuk dan memperlihatkan baju buatannya. (Putri Irakus masuk sambil memperlihatkan baju buatannya) Putri Irakus : Ini Yang Mulia. Ini adalah baju yang saya buat. Raja : Cukup bagus. Kalau boleh tahu, apa bahan yang kau pakai untuk membuat baju ini? Putri Irakus : Baju ini dibuat dari berbagai macam kulit. Kulit unta, kulit pisang, kulit domba, kulit gajah, kulit cheetah, dan tak lupa juga ditambahkan dengan kulit kodok. Pangeran : Wow! Unik sekali! Ratu : Tentu saja! Siapa dulu yang membuatnya? Putri Irakus . . . . Raja : Sekarang, tiba giliran Cinderella. Cinderella, saatnya kau masuk dan membawa baju buatanmu. Satu jam kemudian . . . (Cinderella tidak muncul-muncul) Dua jam kemudian . . . . (Cinderella tidak muncul juga) Krik krik krik krik……. Raja : Kemana sih Cinderella itu? Kok belum muncul-muncul. Pengawal! Cari Cinderella! Pengawal : Baik (kemudian keluar arena) Putri Irakus : Mungkin dia belum menyelesaikan baju buatannya. Atau mungkin dia sama sekali tidak bisa menjahit. Raja : Tunggu dulu! Pengawal kita kan sedang mencari dia. Pliss deh! Tunggu bentar donk ah! Beberapa menit kemudian . . . . Cinderella : (datang tergesa-gesa dan pengawal menyusul di belakang Cinderella)Yang Mulia, maaf…saya terlambat. Raja : Dari mana saja kamu Cinderella? Kami sudah menunggu kamu, Cinderella. Cinderella : Begini yang mulia, seseorang telah merobek baju yang saya buat untuk Pangeran. Ratu : Alaah! Paling itu cuma alasan kamu saja. Cinderella : Tidak! Semua itu benar! Ini buktinya. (menunjukan baju robek ke raja dan kemudian ke penonton) Ratu : Alah! Paling kamu yang merobek baju itu. Cinderella : Tidak! Itu tidak benar! Sumpah! Raja : Sudahlah! Putri Irakus : Tapi ratu, bukannya kita yang merobek baju milik Cinderella itu? Alamaaak, keceplosan akuu.. Semua : Ooo… Raja : Jadi, kalian yang merobek baju Cinderella itu? Ratu : Bukan aku! Itu Putri Irakus! (menunjuk Putri Irakus) Putri Irakus : Tapi itu kan ide Ratu! Raja : Sudah-sudah! Jadi saya putuskan yang akan menikah dengan Pangeran adalah . . . . Cinderell a! Putri Irakus : Tidak! (Pengawal menyeret Putri Irakus pergi) Ratu : Dengan sangat berat hati, aku terima kau jadi menantuku, Cinderella. Pangeran : Akhirnya kita bisa bersatu, Cinderella. Cinderella : Iya. Pangeran. (Ratu & Raja meninggalkan arena) Pangeran : Kita bisa memulai hidup baru tanpa ada yang menggangu. Aku cinta karo koe cinderella…. Cinderella : iya. aku juga. huahaha Akhirnya, setelah berbagai macam kompetisi dijalani, Cinderella dapat bersatu dengan Pangeran. Mereka pun hidup bahagia selamanya . . semoga artikel naskah drama ini bisa membantu sobat Mampir Kesini

Monday, November 19, 2012

our future is our creation plus got bless
hati yang remuk akan dilihat tuhan sebagai persembahan yang berharga

Monday, November 12, 2012

mentari sahabatku yang hangat

selamat pagi dunia hari ini saya sangat gembira karena di depan pintu ruangan kerja saya mentari menyapa saya dengan penuh ke hangatan karena itu saya juga akan memulai aktifitas saya dengan penuh semangat. mari beraktifitas dengan penuh semangat
I will learn as far as I am living for me no problem without solfing so do not think of your limitation, but think of your ability. that is the main purpouse of creating this blog