Wednesday, November 21, 2012

sahabat disabilitas yang lain

Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Published on Monday, 08 October 2012 13:01 | Written by Hilma Awalina | Print Dr Didi Tarsidi, Tunanetra Itu Karakteristik… Perjuangan Ibunda Tunanetra Tak Menghalangi Sukses Sang Ibu All Pages Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani dan menyandang tunanetra sejak usia 5 tahun. Ia berhasil menembus segala keterbatasan hingga meraih gelar doktor. Didi Tarsidi bukan hanya sosok disabilitas tunanetra yang berhasil dalam pendidikan dan kehidupan pribadi.  Ia juga sosok yang mampu berbuat banyak untuk kemajuan dunia tunanetra Indonesia. Terbukti dia terpilih menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) selama dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014). Bagaimana Didi meniti jalan hidup dan menembus segala keterbatasan, hingga menjadi sosok tunanetra yang pantas dijadikan teladan? “Tunanetra itu karakteristik, bukan kekurangan,” ujarnya. Tanpa Penyesalan sosok17 2 Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani di Desa Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, 1 Juni 1951. Ia lahir dengan keadaan normal. Layaknya kehidupan petani, ia dibesarkan dalam kondisi sederhana namun penuh sukacita. Segalanya dijalani terasa mudah hingga ia menginjak 5 tahun. Saat itu, sejenis penyakit infeksi menyerang mata dan membuat Didi kehilangan penglihatan. Ujian hidup yang berat untuk anak seusianya. Kasih sayang kedua orang tua dan keempat saudaranya membuat membuat Didi tetap semangat menjalani hidup, meskipun keadaannya tak lagi seperti dulu. Dalam kehidupan di keluarga, Didi diajarkan untuk tetap bersikap optimistis. Ia mendapat perlakuan dan perhatian yang sama dari orang tuanya. Didi tidak pernah merasa dibedakan dari kakak atau adiknya. “Kalaupun ada perlakuan yang beda, karena perbedaan itu berarti bagi saya,” ujarnya. Didi sangat bersyukur kepada Tuhan karena dilahirkan dari orang tua yang sangat baik. “Orang tua saya tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka mampu menerima segala yang diberikan Tuhan dan menganggapnya sebagai karunia sehingga tidak satu pun penyesalan dalam hati mereka,” katanya. Salah satu bukti kelebihan orang tua Didi adalah memikirkan pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhan khusus. Pada saat usia 9 tahun Didi dikirim belajar ke SLB/A Wiyata Guna, sekolah khusus bagi anak tunanetra di Bandung. Menempuh pendidikan di sekolah khusus bersejarah ini menguatkan Didi tumbuh menjadi kuat dan selalu bersemangat. Didi tumbuh menjadi sosok yang tegar. Baginya tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi, sehingga tidak ada alasan untuk mengeluh. Ketegaran Didi begitu kokoh, meskipun cobaan kembali datang. Saat ia duduk di bangku SMP, sang ayah tercinta menghadap Yang Mahakuasa. Perjuangan Ibunda Sang Ibu memperjuangkan Didi tetap bisa sekolah, meskipun menjadi orang tua tunggal bagi lima anaknya. Didi menamatkan SMP pada tahun 1969. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri 2 Bandung. Sebuah keistimewaan pada saat itu, karena Didi belajar bersama calon-calon guru yang awas atau non-tunanetra. Didi tak berhenti sampai di situ. Tamat dari SPG tahun 1973, Didi melanjutkan pendidikan di IKIP Bandung. Ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Didi berhasil meraih gelar sarjana muda pada tahun 1976 serta gelar sarjana pendidikan pada tahun 1979. Bersaing untuk Hidup sosok17 1 Bisa menempuh pendidikan di perguan tinggi negeri di tahun 1970-an, untuk seorang tunanetra, seperti Didi Tarsidi, tergolong istimewa. Namun Didi tidak sekadar bisa kuliah. Ia juga mendapat beasiswa. Ternyata beasiswa tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup lain. Karena itu Didi juga kemudian berusaha mencari uang sendiri dengan menjadi guru privat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Profesi ini berawal dari pertemuan Didi dengan para volunteer dari Australia. Para relawan itu menjadi reader untuk membantu Didi dan teman yang lain dalam belajar. Saat itu para relawan tersebut sedang belajar bahasa Indonesia dari guru lain. Dari kegiatan dan interaksi tersebut, seorang relawan bernama Viona merasa penjelasan Didi lebih baik daripada penjelasan gurunya. Viona kemudian meminta Didi menjadi guru privat bahasa Indonesia baginya. Viona juga berusaha mempromosikan Didi kepada teman-temannya. Awalnya Didi juga mencoba mendatangi rumah warga negara asing di Bandung untuk menawarkan jasa. Tidak mudah, karena Didi juga harus bersaing dengan guru privat lain yang lebih berpengalaman. Awalnya banyak yang meragukan kemampuan Didi dan menolak. Namun, akhirnya Didi berhasil meyakinkan para calon muridnya. Bahkan salah satu muridnya tak ragu-ragu mempromosikan Didi melalui iklan di buletin asing What’s On. Nama Didi pun kian terkenal dari kalangan komunitas orang asing. Kini bukan Didi lagi yang menawarkan diri, tapi dialah yang diminta. Dari hasil menjadi guru privat Didi mendapat uang yang sangat membantu biaya hidup dan kuliahnya. Kegiatan Didi mengajar privat berkurang seiring aktivitasnya di berbagai organisasi dan dunia kerja yang sesungguhnya. Didi mengawali kerja yang sesungguhnya pada tahun 1979 sebagai penerjemah untuk Hellen Keller International, lembaga sosial internasional yang berpusat di di New York, Amerika Serikat. Bahkan kemudian Didi benar-benar berhenti mengajar karena sibuk bekerja. “Saya bekerja sebagai interpreter untuk Helen Keller International, yang saat itu menjalin kerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merintis pengembangan pendidikan terpadu bagi anak-anak tunanetra di Indonesia, yang kegiatan operasionalnya berpusat di Bandung,” jelas Didi. Tunanetra Tak Menghalangi Didi seorang yang gigih. Ia mengaku, meski tunanetra, dia tidak menghadapi banyak hambatan karena mau berupaya. “Saya punya kapasitas intelektual dan di situlah saya berusaha berkembang,” katanya. Hasil dari upaya itu, tahun 1979 Didi diangkat sebagai staf pengajar pada Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Bandung dan mulai mengajar pada tahun 1980. Tahun 1994, ketika SGPLB Bandung diintegrasikan ke dalam Jurusan Pendidikan Luar Biasa IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Didi diangkat sebagai dosen. Hingga saat ini Didi berstatus dosen Jurusan PLB dan menduduki jabatan Lektor Kepala. sosok17 3 Selain sebagai dosen, selama tahun 1999-2004, Didi juga terlibat dalam Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, yang mendapat bantuan dana dari pemerintah Norwegia dan bantuan teknis dari Universitas Oslo. Didi berperan sebagai konsultan sekaligus penerjemah pada proyek ini. Proyek ini memberikan kesempatan kepada Didi untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk mempromosikan pendidikan inklusif. Selain itu, tahun 2003, Didi termasuk dalam empat orang dosen yang dikirim UPI ke Norwegia untuk studi banding implementasi pendidikan inklusif di Norwegia dan pelaksanaan program master pendidikan kebutuhan khusus dengan orientasi pendidikan inklusif di Universitas Oslo. Studi banding ini kemudian bermuara pada pembukaan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di Pascasarjana UPI. Kesempatan-kesempatan itu membantu Didi mampu terus mengembangkan kemampuan intelektualnya. Didi menempuh pendidikan magister di Pascasarjana UPI pada tahun 2000-2002 dan meraih magister pendidikan dalam bidang studi Bimbingan dan Konseling pada tahun 2002. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan doktoral di perguruan yang sama. Ia memulai pendidikan tahun 2005 dan meraih gelar doktor pada tahun 2008. Selain di dunia pendidikan, Didi juga aktif dalam kegiatan organisasi penyandang disabilitas, khusunya tunanetra. Selain menjabat Ketua Umum DPP Pertuni dua periode (2004 - 2009 dan 2009 - 2014), Didi juga menjabat Vice President World Blind Union Asia-Pacific tahun 2004 - 2008. Didi juga menjadi koordinator pelayanan Mitra Netra Bandung. Sukses Sang Ibu Kini Didi hidup bahagia bersama keluarganya. Didi menikah dengan Wacih Kurnaesih, tunanetra yang saat ini menjadi guru SLB/A Negeri Bandung. Mereka bertemu saat sama-sama tinggal dan belajar di Wiyata Guna. Keduanya menikah tahun 1980. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak, Tommi Rinaldi (kelahiran 1981) dan Sendy Nugraha (1983). Kedua putra ini sudah menikah dan memberikan cucu. Didi bersyukur bisa memperlihatkan keberhasilan dalam berkarier dan berkeluarga sebelum sang ibu tercinta wafat belum lama ini. “Alhamdulillah, anak-anak tidak bernasib seperti saya. Mereka tumbuh normal dan sekarang berhasil dalam pekerjaannya,” tuturnya. Ia menganggap keberhasilan yang diraihnya adalah keberhasilan dari usaha yang dilakukan sang ibunya dalam menghidupi keluarga seorang diri. Dalam kesehariannya, di luar kegiatan formal, Didi menghabiskan waktu luang di depan komputer untuk membaca, mencari segala informasi. Didi aktif menulis di blog pribadinya “Counseling and Blindness”. Blog ini dibuat untuk mengubah persepsi negatif masyarakat tentang tunanetra. Didi Tarsidi memang telaten dan tekun. Dalam diskusi mengenai peran pers dalam pemberdayaan disabilitas yang diselenggarakan majalah diffa bersama Jurusan PLB Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung, pertengahan Maret 2012, Didi duduk di kursi barisan depan. Ia mengikuti diskusi dengan serius dan sesekali menulis di netbook-nya. “Ini penting. Ini harus dicatat,” gumamnya beberapa kali. Itulah sosok Doktor Didi Tarsidi. Dalam perjalanan hidupnya, ia selalu berusaha menerima diri apa adanya, sesuai dengan yang diberikan Tuhan. “Tapi tidak sekadar menerima. Jika hanya menerima, bukanlah suatu hal yang dapat dikatakan berhasil. Kita harus bertekad mengembangkan apa yang dimiliki agar dapat optimal sehingga bermanfaat,” ujarnya. Itulah prinsip dalam hidup Didi Tarsidi. Ia tidak pernah menganggap ketunanetraan sebagai kekurangan, melainkan sebagai karakteristik pribadi. “Sama dengan karakteristik pada orang lain, seperti jelek, cantik, gemuk, dan kurus,” katanya. Satu cita-cita Didi Tarsidi yang belum tercapai adalah meraih gelar profesor. Namun, semangat Didi tak pernah pupus. * Foto: Sigit D Pratama (rubrik sosok diffa edisi 17, 2012)

No comments:

Post a Comment