Friday, May 3, 2013

merubah makana ketunanetraan melalui braille dan alat-alat bantu mobilitas


 

mengubah  makna Ketunanetraan  melalui Braille dan Alat-alat  Bantu Mobilitas

 

 mata adalah jendela tubuh.  Mau membaca, menulis,mengenali benda,  menikmati keindahan alam, membedakan warna hingga mengenal karakter orang , membutuhkan mata.  Betapa pentingnya mata ,. Bila fungsi mata terganggu ,maka akan menghambat akses terhadap informasi. Hal ini merupakan opini sebagian besar masyarakat,  yang belum mengenal kaum tunanetra.  


 Orang bijak mengatakan: “ mau menguasai alam semesta,akseslah buku sebanyak mungkin”
Potongan kalimat ini  mengandung makna yang sangat bernas.  Namun  agar dapat  menimba informasi tersebut haruslah mampu baca tulis dan berhitung “calistung” karena kumpulan informasi  tersebut dibangun dari  deretan huruf-huruf dan angka-angka yang berkolaberasi membentuk sejumlah kalimat informatif. Dalam proses ini,ada yang mengunakan visual untuk calistung,  yang lain lewat ujung-ujung jari, ada pula mempergunakan kaki, bahkan dengan mulut. untuk melakukan calistung, tampa mata inilah yang dikatakan berkebutuhan khusus.  Wujud huruf yang dipergunakan juga bermacam-macam.  ada huruf  kanji, gambar, bahkan huruf timbul  yakni braille. Nah kalangan yang mengandalkan kepekaan ujung-ujung jari untuk mengakses huruf-huruf timbul inilah yang  dikatakan kaum tunanetra.
Tunanetra adalah individu yang mengalami masalah dengan visual. baik    lowvision “memiliki kemampuan terbatas”, maupun totally blind  sama sekali tidak bisa melihat”.  Intinya kaum tunanetra tidak mampu  memanfaatkan indra mata dengan efektif lagi. Contohnnya  penulis, yang  notabene  sejak lahir, tidak bisa melihat indahnya alam semesta ini.  lahir  dari keluarga kurang mampu dan hidup di desa terpencil. Ketika berusia 7 tahun Ibunda mengantar kesekolah ,di desa,. Tapi tiga bulan kemudian terpaksa berhenti karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, terutama membaca dan menulis latin.  Penulis hanya pasrah mesti tak rela. sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Sudah buta fisik ditambah pula buta huruf.  Lengkaplah sudah penderitaan ini. di rumah  bagai hidup disangkar emas. Sedang Di masyarakat bagai anak ayam tampa induk.   Hidup antara penjara dan belantara.

 

 Setelah sekian lama harus hidup dalam ketidak pastian, Akhirnya  selimut kabut pekat yang menutup,mulai tersisih, seiring dengan terbitnya sang mentari di ufuk timur.  ketika salah seorang   Famili dari kota mengabarkan bawa di kota ada sekolah luar biasa. Menurut dia, sekolah itu khusus untuk anak-anak cacat  sepertikebutuhanku. awalnya  Ibu menolak untuk mengirim penulis kesana.

 “kalau kamu sekolah terus bisa apa”,  Kata ibu. “lagi pula dari mana biaya sekolahmu,  saudara-saudara kamu saja tersekolahkan suda syukur”   

ekonomilah alasan utama Ibu untuk tidak berniat menyekolahkan penulis . selain itu,ada rasa sepele akan pendidikan anak buta. Mereka merasa sekolah itu tak ada faedahnya. “ok, sekarang bapak dan mama masih sehat, tentu masih bisa beri aku makan,, bila kelak kalian tiada, kemana aku?” kalimat itu tersembur dari mulutku seraya mata berkaca-kaca.

Akhirnya berkat bujukan family dari  kota, penulis boleh diantar ke SLB/a negri Korpri di berastagi.

 

 saat pertama duduk di kelas, pak Patoh Ginting sang guru membacakan sejarah braille. Seusai mendengar kisah itu, penulis terssadar,  ternyata bukan hanya penulis yang buta.

Nama loice braille dari Prancis, tak akan pernah terlupakan. atas penemuannyalah kaum buta tidak lagi buta huruf. bisa mengenal huruf braille dengan kepekaan ujung-ujung jarinya.

  formasinya terdiri dari enam titik.   1 2  3, berurutan secara vertical dari atas kebawah pada sisi     kiri dan sebaliknya 4 5 6 pada sebelah kanan. menulis dari kanan ke kiri dan membaca dari kiri ke kanan. Dengan alat cetak diberi nama reglat dan stilus sebagai alat cetakan hurufnya.

Sungguh reglat nama yang setara dengan fungsinya ,memulihkan kebahagiaan kaum tunanetra sebagaimana yang penulis alami .

 

 Hari-hari tinggal di asrama sekolah terasa mengasikan, di samping bisa sekolah, bergaul dengan rekan senasib, bahkan rasanya lebih nyaman dari pada tinggal di rumah sendiri. tak terasa kegiatan calistung telah berlangsung beberapa bulan. Tak ada hambatan yang berarti. kini aku telah mampu calistung walau masi terbata-bata. Hari-hari berjalan dengan meraba-raba huruf braille. Sepertinya penulis baru keluar dari  penjara yang menyesakan. Semua buku-buku braille yang ada di kelas dibaca meski belum tahu maknanya sepenuhnya. Mulai dari buku pelajaran, cerita hingga majalah gema braille. semuanya habis terbaca.

  pada saat mata pelajaran pelajaran khusus Orientasi Mobilitas bapak  Ginting mengenalkan sebatang benda yang masih terasa asing. Kata bapak Ginting tongkat inilah yang akan menjadi pengganti mata kaum tunanetra saat berjalan” dengan rasa penasaran  saya raba perlahan-lahan. Mulai dari bagian atas terdapat lengkungan membentuk setengah lingkaran, kemudian terdapat bagian yang dililiti dengan karet kata pak guru inilah bagian yang menjadi tempat pegangan. Beberapa centi kebawah terdapat semacam tempelan berwarna merah, sebagai penanda tongkat tunanetra. Dan pada bagian ujung terdapat tip yang bersentuhan dengan permukaan jalan. kata bapak guru” pakailah tongkat ini saat berpergian. tongkat ini akan menganti mata kaum tunanetra saat berjalan. Karena pengguna tongkat ini dilindungi undang-undang. Sayangnya aku lupa UU no berapa yang disebut bapak guru waktu itu.

dengan sabar penulis pelajari teknik menggunakannya mulai dari menyelusurijalanan,  menaiki tangga hingga cara menyebrang dijalan raya. Pertama terasa canggung, tapi lama kelamaan tongkat ini semakin menyatu dengan diri saya. Bila awlnya ada perasaan canggung, janggal bahkan malu saat menggunakannya, justru sekarang berubah total,  bila berpergian tampa menggunakan  tonggkat, rasanya tidak nyaman.

 Singkat cerita penulis pindah meneruskan studi di kota medan. tinggal di komplek SLB/a yapentra. Dan bersekolah di sekolah umum yang disebut pendidikan inklusi, di sini,. Braille dan tonggkat putih  menjadi  alat yang sangat berjasa bagiku. Setiap hari penulis harus berangkat dari rumah  ke Smu RK.  Serdang murni “km12” ke asrama. Setiap hari pulang pergi,di tepi jalan raya, naik turun kendaraan umum selayaknya anak sekolah umum. Tongkat putih setiap hari memapah dan Braille menjadi media komunikasi. semua buku pelajaran harus dialih huruf ke Braille. Meski sulit, nyatanya bisa. Sejak kelas satu penulis meraih rengking  3 terbaik di kelas.

setelah lulus dari sma, pendidikan berlanjut ke Universitas Katholik Santo Thomas Medan, meski berjuta hambatan menerpa NamunAku bisa lulus tepat waktu. memperoleh gelar strata 1,sarjana sastra dan Bahasa Inggris.  Dan sekarang penulis bekerja di SLB/A Yapentra.

 

 sekarang penulis merrasa tengah berubah, dari tersisih menjadi terpilih,  hidup di masyarakat, berkeluarga, bahkan berperan dalam kegiatan masyarakat.  Penulis setiap tahun dipercaya menjadi ketua juri lomba baca braille yang diselenggarakan oleh badan perpustakaan sumut,dalam rangka hari buku.

  Terima kasih wahai tongkat putih dan loice braille.

No comments:

Post a Comment