Panas
pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan
mencerca tak kesampaian
bibirmu berujar tampa rasa
namun semua harus merasa
catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah
pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah
terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
ide seorang professor elum tentu lebih baik
dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah
pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara
yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa
panashatiolaeh setumpuk udara
menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala
mengajak, merangsak
Panas
pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan
mencerca tak kesampaian
bibirmu berujar tampa rasa
namun semua harus merasa
catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah
pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah
terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
ide seorang professor elum tentu lebih baik
dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah
pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara
yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa
panashatiolaeh setumpuk udara
menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala
mengajak, merangsak
Panas
Panas
pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan
mencerca tak kesampaian
bibirmu berujar tampa rasa
namun semua harus merasa
catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah
pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah
terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
ide seorang professor elum tentu lebih baik
dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah
pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara
yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa
panashatiolaeh setumpuk udara
menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala
mengajak, merangsak
pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan
mencerca tak kesampaian
bibirmu berujar tampa rasa
namun semua harus merasa
catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah
pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah
terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
ide seorang professor elum tentu lebih baik
dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah
pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara
yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa
panashatiolaeh setumpuk udara
menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala
mengajak, merangsak
No comments:
Post a Comment