Thursday, March 20, 2014

puisi hati



Panas

pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan mencerca tak kesampaian
bibirmu  berujar tampa rasa
namun semua harus merasa

catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan  kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun  apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan  mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
 ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
 ide seorang professor elum tentu lebih baik dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
 tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan  kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa

panashatiolaeh setumpuk udara menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala mengajak, merangsak




Panas

pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan mencerca tak kesampaian
bibirmu  berujar tampa rasa
namun semua harus merasa

catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan  kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun  apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan  mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
 ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
 ide seorang professor elum tentu lebih baik dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
 tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan  kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa

panashatiolaeh setumpuk udara menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala mengajak, merangsak




Panas


Panas

pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan mencerca tak kesampaian
bibirmu  berujar tampa rasa
namun semua harus merasa

catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan  kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun  apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan  mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
 ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
 ide seorang professor elum tentu lebih baik dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
 tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan  kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa

panashatiolaeh setumpuk udara menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala mengajak, merangsak




pernapasan terasa sesak
peluh bercucuran
denyut nadi makin deras berpacu
bibir tak mampumerangsang
wajah memerah, menahan murka
hati mengumpat, memaki dan mencerca tak kesampaian
bibirmu  berujar tampa rasa
namun semua harus merasa

catatan hari ini
boleh jadi besok japun di sampah
kau himbau, kau halau
fungsi kebersamaan  kesemena-menaan an batas selogan
kapan gerangan embun turun
dan bila mana awan menyapa
aku tak berdaya buat cuacapun  apa lagi bersuara
iklim kesemena-menaan  mungkin tak jaman lagi
loloskanlah amarahmu
buangkanlah egomu
kedepankanlah si arif
 ruang rapat jangan kau nodai
sidangagung jangan kau kangkangi
feodalisme cukuplah sebatalah pembakar sampah s sejarah
aspirasi kaum cilik baiklah terserap, meski tak tersurat hangatnya diskusi aku rindukan
amarahyang panas hanyalah
 ide seorang professor elum tentu lebih baik dari ide sepuluh ilmuan muda
keputusan emosional bukanlah pilihan kita
lirih lembut suara miring
manis lembut sangpengacau
pecah runtuh wadah bersama
lihatlah senyum sang propokator
 tersirat kepuasan memecah
agama tak lagi mampu merangkul
awan  kesejukan datanglah segera runtuhkanlah bara yang memanas.
namun apa daya
bila hanya sebatas rasa

panashatiolaeh setumpuk udara menyesah
aku tak berdaya
resah tak berujung
bara api di kepala menyala mengajak, merangsak


No comments:

Post a Comment